Internal link adalah tautan yang menghubungkan
satu artikel dengan artikel lain di dalam blog yang sama. Meski terlihat
sederhana, internal link berperan besar dalam membantu pembaca memahami isi
blog sekaligus memudahkan mesin pencari menelusuri konten.
Blog yang memiliki internal link rapi biasanya
terasa lebih nyaman dibaca karena pembaca tidak berhenti di satu halaman saja,
tetapi diarahkan ke artikel lain yang masih relevan.
1. Pahami Fungsi Internal Link
Internal link bukan sekadar menambahkan tautan.
Fungsinya adalah memberi konteks, memperdalam pembahasan, dan mengarahkan
pembaca secara alami.
Dengan internal link yang baik, pembaca bisa:
·
Mendapat penjelasan
lanjutan tanpa harus mencari sendiri
·
Menjelajah blog dengan
lebih terarah
·
Menghabiskan waktu lebih
lama di blog
2. Tentukan Artikel Utama dan Pendukung
Sebelum menambahkan internal link, tentukan
artikel utama yang menjadi topik besar. Artikel lain berperan sebagai pendukung
yang membahas subtopik.
Contohnya, artikel tentang “Belajar Blogging
untuk Pemula” bisa menjadi artikel utama, sementara artikel tentang menulis
konten, mengatur tampilan, atau optimasi dasar menjadi artikel pendukung.
3. Gunakan Teks Tautan yang Jelas
Hindari penggunaan teks seperti “klik di sini”
atau “baca selengkapnya”. Gunakan teks tautan yang menjelaskan isi artikel
tujuan.
Contoh yang lebih baik adalah menggunakan frasa
yang relevan dengan topik, sehingga pembaca tahu apa yang akan mereka baca
setelah mengklik tautan tersebut.
4. Sisipkan Internal Link Secara Alami
Internal link sebaiknya disisipkan di dalam
paragraf, bukan dipaksakan di akhir artikel. Pilih bagian tulisan yang memang
membutuhkan penjelasan tambahan.
Idealnya, satu artikel memiliki 2–5 internal link
tergantung panjang tulisan. Terlalu sedikit membuat navigasi kurang maksimal,
terlalu banyak justru mengganggu fokus membaca.
5. Manfaatkan Internal Link Lama ke
Artikel Baru
Saat menulis artikel baru, jangan lupa
menambahkan tautan dari artikel lama yang masih relevan. Cara ini membantu
artikel baru lebih cepat ditemukan pembaca.
Biasakan untuk mengecek kembali artikel lama
setiap kali ada konten baru yang masih satu topik.
6. Periksa Kembali Tautan Secara Berkala
Seiring waktu, struktur blog bisa berubah. Ada
artikel yang dihapus atau judul yang diperbarui. Internal link yang rusak akan
mengganggu kenyamanan pembaca.
Luangkan waktu secara berkala untuk memastikan
semua tautan masih aktif dan mengarah ke halaman yang tepat.
7. Fokus pada Kenyamanan Pembaca
Tujuan utama internal link bukan mengejar jumlah
klik, tetapi membantu pembaca. Jika sebuah tautan tidak memberi nilai tambah,
sebaiknya tidak perlu ditambahkan.
Internal link yang rapi membuat blog terasa
terstruktur, mudah dijelajahi, dan lebih ramah bagi pembaca maupun mesin
pencari.
Blog yang memiliki internal link rapi biasanya
terasa lebih nyaman dibaca karena pembaca tidak berhenti di satu halaman saja,
tetapi diarahkan ke artikel lain yang masih relevan.
1. Pahami Fungsi Internal Link
Internal link bukan sekadar menambahkan tautan.
Fungsinya adalah memberi konteks, memperdalam pembahasan, dan mengarahkan
pembaca secara alami.
Dengan internal link yang baik, pembaca bisa:
·
Mendapat penjelasan
lanjutan tanpa harus mencari sendiri
·
Menjelajah blog dengan
lebih terarah
·
Menghabiskan waktu lebih
lama di blog
2. Tentukan Artikel Utama dan Pendukung
Sebelum menambahkan internal link, tentukan
artikel utama yang menjadi topik besar. Artikel lain berperan sebagai pendukung
yang membahas subtopik.
Contohnya, artikel tentang “Belajar Blogging
untuk Pemula” bisa menjadi artikel utama, sementara artikel tentang menulis
konten, mengatur tampilan, atau optimasi dasar menjadi artikel pendukung.
3. Gunakan Teks Tautan yang Jelas
Hindari penggunaan teks seperti “klik di sini”
atau “baca selengkapnya”. Gunakan teks tautan yang menjelaskan isi artikel
tujuan.
Contoh yang lebih baik adalah menggunakan frasa
yang relevan dengan topik, sehingga pembaca tahu apa yang akan mereka baca
setelah mengklik tautan tersebut.
4. Sisipkan Internal Link Secara Alami
Internal link sebaiknya disisipkan di dalam
paragraf, bukan dipaksakan di akhir artikel. Pilih bagian tulisan yang memang
membutuhkan penjelasan tambahan.
Idealnya, satu artikel memiliki 2–5 internal link
tergantung panjang tulisan. Terlalu sedikit membuat navigasi kurang maksimal,
terlalu banyak justru mengganggu fokus membaca.
5. Manfaatkan Internal Link Lama ke
Artikel Baru
Saat menulis artikel baru, jangan lupa
menambahkan tautan dari artikel lama yang masih relevan. Cara ini membantu
artikel baru lebih cepat ditemukan pembaca.
Biasakan untuk mengecek kembali artikel lama
setiap kali ada konten baru yang masih satu topik.
6. Periksa Kembali Tautan Secara Berkala
Seiring waktu, struktur blog bisa berubah. Ada
artikel yang dihapus atau judul yang diperbarui. Internal link yang rusak akan
mengganggu kenyamanan pembaca.
Luangkan waktu secara berkala untuk memastikan
semua tautan masih aktif dan mengarah ke halaman yang tepat.
7. Fokus pada Kenyamanan Pembaca
Tujuan utama internal link bukan mengejar jumlah
klik, tetapi membantu pembaca. Jika sebuah tautan tidak memberi nilai tambah,
sebaiknya tidak perlu ditambahkan.
Internal link yang rapi membuat blog terasa
terstruktur, mudah dijelajahi, dan lebih ramah bagi pembaca maupun mesin
pencari.






0 comments:
Posting Komentar