Menu Navigasi Custom!


Senin, 03 September 2012

Cara Mengatur Internal Link Blog agar Navigasi Lebih Rapi

Internal link adalah tautan yang menghubungkan satu artikel dengan artikel lain di dalam blog yang sama. Meski terlihat sederhana, internal link berperan besar dalam membantu pembaca memahami isi blog sekaligus memudahkan mesin pencari menelusuri konten.

Blog yang memiliki internal link rapi biasanya terasa lebih nyaman dibaca karena pembaca tidak berhenti di satu halaman saja, tetapi diarahkan ke artikel lain yang masih relevan.

1. Pahami Fungsi Internal Link

Internal link bukan sekadar menambahkan tautan. Fungsinya adalah memberi konteks, memperdalam pembahasan, dan mengarahkan pembaca secara alami.

Dengan internal link yang baik, pembaca bisa:

·         Mendapat penjelasan lanjutan tanpa harus mencari sendiri

·         Menjelajah blog dengan lebih terarah

·         Menghabiskan waktu lebih lama di blog

2. Tentukan Artikel Utama dan Pendukung

Sebelum menambahkan internal link, tentukan artikel utama yang menjadi topik besar. Artikel lain berperan sebagai pendukung yang membahas subtopik.

Contohnya, artikel tentang “Belajar Blogging untuk Pemula” bisa menjadi artikel utama, sementara artikel tentang menulis konten, mengatur tampilan, atau optimasi dasar menjadi artikel pendukung.

3. Gunakan Teks Tautan yang Jelas

Hindari penggunaan teks seperti “klik di sini” atau “baca selengkapnya”. Gunakan teks tautan yang menjelaskan isi artikel tujuan.

Contoh yang lebih baik adalah menggunakan frasa yang relevan dengan topik, sehingga pembaca tahu apa yang akan mereka baca setelah mengklik tautan tersebut.

4. Sisipkan Internal Link Secara Alami

Internal link sebaiknya disisipkan di dalam paragraf, bukan dipaksakan di akhir artikel. Pilih bagian tulisan yang memang membutuhkan penjelasan tambahan.

Idealnya, satu artikel memiliki 2–5 internal link tergantung panjang tulisan. Terlalu sedikit membuat navigasi kurang maksimal, terlalu banyak justru mengganggu fokus membaca.

5. Manfaatkan Internal Link Lama ke Artikel Baru

Saat menulis artikel baru, jangan lupa menambahkan tautan dari artikel lama yang masih relevan. Cara ini membantu artikel baru lebih cepat ditemukan pembaca.

Biasakan untuk mengecek kembali artikel lama setiap kali ada konten baru yang masih satu topik.

6. Periksa Kembali Tautan Secara Berkala

Seiring waktu, struktur blog bisa berubah. Ada artikel yang dihapus atau judul yang diperbarui. Internal link yang rusak akan mengganggu kenyamanan pembaca.

Luangkan waktu secara berkala untuk memastikan semua tautan masih aktif dan mengarah ke halaman yang tepat.

7. Fokus pada Kenyamanan Pembaca

Tujuan utama internal link bukan mengejar jumlah klik, tetapi membantu pembaca. Jika sebuah tautan tidak memberi nilai tambah, sebaiknya tidak perlu ditambahkan.

Internal link yang rapi membuat blog terasa terstruktur, mudah dijelajahi, dan lebih ramah bagi pembaca maupun mesin pencari.

 Internal link adalah tautan yang menghubungkan satu artikel dengan artikel lain di dalam blog yang sama. Meski terlihat sederhana, internal link berperan besar dalam membantu pembaca memahami isi blog sekaligus memudahkan mesin pencari menelusuri konten.

Blog yang memiliki internal link rapi biasanya terasa lebih nyaman dibaca karena pembaca tidak berhenti di satu halaman saja, tetapi diarahkan ke artikel lain yang masih relevan.

1. Pahami Fungsi Internal Link

Internal link bukan sekadar menambahkan tautan. Fungsinya adalah memberi konteks, memperdalam pembahasan, dan mengarahkan pembaca secara alami.

Dengan internal link yang baik, pembaca bisa:

·         Mendapat penjelasan lanjutan tanpa harus mencari sendiri

·         Menjelajah blog dengan lebih terarah

·         Menghabiskan waktu lebih lama di blog

2. Tentukan Artikel Utama dan Pendukung

Sebelum menambahkan internal link, tentukan artikel utama yang menjadi topik besar. Artikel lain berperan sebagai pendukung yang membahas subtopik.

Contohnya, artikel tentang “Belajar Blogging untuk Pemula” bisa menjadi artikel utama, sementara artikel tentang menulis konten, mengatur tampilan, atau optimasi dasar menjadi artikel pendukung.

3. Gunakan Teks Tautan yang Jelas

Hindari penggunaan teks seperti “klik di sini” atau “baca selengkapnya”. Gunakan teks tautan yang menjelaskan isi artikel tujuan.

Contoh yang lebih baik adalah menggunakan frasa yang relevan dengan topik, sehingga pembaca tahu apa yang akan mereka baca setelah mengklik tautan tersebut.

4. Sisipkan Internal Link Secara Alami

Internal link sebaiknya disisipkan di dalam paragraf, bukan dipaksakan di akhir artikel. Pilih bagian tulisan yang memang membutuhkan penjelasan tambahan.

Idealnya, satu artikel memiliki 2–5 internal link tergantung panjang tulisan. Terlalu sedikit membuat navigasi kurang maksimal, terlalu banyak justru mengganggu fokus membaca.

5. Manfaatkan Internal Link Lama ke Artikel Baru

Saat menulis artikel baru, jangan lupa menambahkan tautan dari artikel lama yang masih relevan. Cara ini membantu artikel baru lebih cepat ditemukan pembaca.

Biasakan untuk mengecek kembali artikel lama setiap kali ada konten baru yang masih satu topik.

6. Periksa Kembali Tautan Secara Berkala

Seiring waktu, struktur blog bisa berubah. Ada artikel yang dihapus atau judul yang diperbarui. Internal link yang rusak akan mengganggu kenyamanan pembaca.

Luangkan waktu secara berkala untuk memastikan semua tautan masih aktif dan mengarah ke halaman yang tepat.

7. Fokus pada Kenyamanan Pembaca

Tujuan utama internal link bukan mengejar jumlah klik, tetapi membantu pembaca. Jika sebuah tautan tidak memberi nilai tambah, sebaiknya tidak perlu ditambahkan.

Internal link yang rapi membuat blog terasa terstruktur, mudah dijelajahi, dan lebih ramah bagi pembaca maupun mesin pencari.

 

0 comments:

Posting Komentar